Sejarah

Misteri Rumah Proklamasi Pegangsaan Timur 56 yang Dirobohkan

Samsul Ngarifin
Samsul Ngarifin
Kontributor
17 Agustus 2026, 10:46 WIB 4 mnt baca 5 hits
Misteri Rumah Proklamasi Pegangsaan Timur 56 yang Dirobohkan
Rumah Soekarno tempat pembacaan Proklamasi Foto: merdika.id
Pernahkah Anda membayangkan di mana tepatnya Bung Karno berdiri saat memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945? Jika Anda datang ke Jalan Proklamasi sekarang, Anda hanya akan menemukan taman luas dengan monumen patung raksasa dan sebuah tugu berlogo petir.

Rumah bersejarah itu saksi bisu lahirnya sebuah bangsa kini telah rata dengan tanah. Ironisnya, perintah pembongkaran itu datang langsung dari sang pemilik sekaligus sang proklamator sendiri, Presiden Soekarno, pada awal 1960-an.

Keputusan ini hingga kini masih menyisakan teka-teki besar bagi para sejarawan. Mengapa bangunan yang disebut sebagai "titik nol Republik Indonesia" itu harus dimusnahkan oleh tangan yang justru membesarkannya?

Jejak Estetika di Balik Dinding Pegangsaan Timur 56

Rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta Pusat, bukanlah bangunan sembarangan. Bergaya Art Deco yang elegan, rumah ini aslinya adalah sebuah landhuis dengan 12 kamar, ruang makan luas, dan halaman yang sangat lapang.

Sebelum ditempati Soekarno, rumah ini dihuni oleh tokoh-tokoh penting Belanda, seperti Prof. Baron van Asbeck dan seorang pengacara bernama Mr. Feith. Menariknya, Bung Karno memilih rumah ini bukan karena kemewahannya, melainkan karena fungsionalitasnya.

"Bung Karno sengaja memilih rumah ini karena halamannya luas, bisa menampung banyak rakyat yang ingin bertemu," ungkap catatan sejarah dari rekan-rekan pergerakannya. Di teras depan rumah inilah, narasi kemerdekaan dibacakan di tengah suasana yang sederhana namun sakral.

Misteri Pembongkaran: Antara 'Tumbal' Pembangunan dan Rasa Malu

Pertanyaan besarnya tetap sama: Mengapa dihancurkan? Sejarawan senior Rushdy Hoesein menyebutkan bahwa hingga kini alasan pasti di balik perintah Bung Karno tersebut masih diselimuti misteri. Namun, ada beberapa teori kuat yang muncul ke permukaan.

1. Teori 'Tumbal' Gedung Pola

Analisis arsitek Bambang Eryudhawan menyebutkan bahwa Soekarno kemungkinan besar "mengorbankan" rumahnya demi pembangunan Gedung Pola di bagian belakang situs tersebut. Gedung Pola dirancang sebagai pusat pameran perencanaan pembangunan nasional yang digagas Soekarno.

Karena posisi rumah Pegangsaan Timur 56 dianggap menghalangi pemandangan depan Gedung Pola, Bung Karno memutuskan untuk merobohkannya. Ia ingin menciptakan kawasan yang lebih modern dan tertata sesuai visinya tentang Jakarta sebagai kota kelas dunia.

2. Beban Psikologis Pemberian Jepang

Teori lain yang cukup berani menyebutkan adanya faktor psikologis. Rumah tersebut diberikan oleh otoritas pendudukan Jepang pada tahun 1943 ketika Soekarno menjabat sebagai anggota Chuo Sangi-in.

Ada spekulasi bahwa Bung Karno merasa "malu" atau tidak nyaman karena rumah saksi proklamasi tersebut berstatus sebagai pemberian penjajah. "Bung Karno mungkin merasa rumah itu bukan representasi murni perjuangan jika fisiknya adalah jatah dari Jepang," tutur Rushdy Hoesein dalam sebuah diskusi sejarah.

3. Pragmatisme Sang Arsitek Progresif

Bung Karno adalah seorang arsitek. Baginya, sebuah bangunan mungkin bersifat fungsional dan temporal. Ada sebuah kutipan terkenal saat Henk Ngantung (Gubernur Jakarta saat itu) mencoba membujuknya agar tidak membongkar rumah tersebut.

"Apakah kamu juga termasuk mereka yang ingin memamerkan celana kolorku?" tanya Bung Karno dengan nada retoris.

Ucapan ini menunjukkan bahwa Soekarno tidak ingin kehidupan pribadinya—termasuk rumah tempatnya tinggal—dijadikan museum yang statis. Ia lebih memilih memindahkan semangat proklamasi ke Monumen Nasional (Monas) yang lebih megah dan simbolis bagi seluruh rakyat.

Polemik Kepemilikan dan Jejak Sutan Sjahrir

Sejarah rumah ini juga diwarnai polemik tentang status kepemilikannya. Muncul narasi yang menyebut rumah tersebut adalah hibah dari saudagar Faradj Martak. Namun, sejarawan masih memperdebatkan keabsahan dokumen hibah tersebut karena catatan resmi menunjukkan rumah itu dikelola oleh pemerintah pendudukan Jepang sebelum dinyatakan sebagai rumah negara pada 1949.

Selain itu, rumah ini juga memiliki kaitan erat dengan tokoh bangsa lain, Sutan Sjahrir. Setelah Soekarno pindah ke Yogyakarta pada 1946, rumah ini digunakan oleh Sjahrir sebagai kantor Perdana Menteri. Perseteruan politik antara kelompok Soekarno dan Sjahrir di kemudian hari sering kali dikaitkan dengan alasan pembongkaran tugu peringatan satu tahun proklamasi yang ada di halaman rumah tersebut.

Titik Nol yang Kini Tinggal Kenangan

Kini, lokasi tersebut dikenal sebagai Taman Proklamasi. Di sana berdiri Tugu Petir, sebuah tiang setinggi 17 meter dengan logo petir di puncaknya, yang menandai titik persis di mana Bung Karno membacakan naskah Proklamasi.

Meskipun banyak pihak, termasuk para sejarawan dan Yayasan Bung Karno, telah melobi berbagai presiden untuk membangun kembali replika rumah tersebut, hingga kini upaya itu belum membuahkan hasil. Fondasinya pernah digali untuk rekonstruksi, namun proyek itu terhenti dan terkubur kembali.

Bagi generasi muda, hilangnya rumah fisik Pegangsaan Timur 56 adalah kehilangan besar dalam rantai sejarah autentik. Kita tidak bisa lagi menyentuh dindingnya atau berdiri di teras aslinya. Namun, mungkin itulah pesan yang ingin disampaikan Soekarno: bahwa kemerdekaan bukan tentang memuja batu dan bata, melainkan tentang membangun masa depan yang lebih besar dari sekadar kenangan masa lalu.

Samsul Ngarifin
Catatan Pewarta Warga

Samsul Ngarifin

Kontributor di WARGAZINE.ID

Berita Terkait di Rubrik Sejarah

Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada tanggapan pada artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan opini!