Sejarah

Mengenang 10 November: Suara Bung Tomo dan Darah yang Membasuh Surabaya

Dwi Ardiyan
Dwi Ardiyan
Kontributor
18 Agustus 2026, 12:42 WIB 5 mnt baca 8 hits
Mengenang 10 November: Suara Bung Tomo dan Darah yang Membasuh Surabaya
Foto Bung Tomo dan keluarga Foto: Perpustakaan Nasional
Pertempuran Surabaya merupakan kisah heroik bangsa Indonesia saat menghadapi kekuatan Sekutu dan Belanda. Pertumpahan darah di Surabaya itu menunjukkan semangat juang para pejuang Indonesia yang rela berkorban demi keutuhan Indonesia yang baru merdeka.

Suara itu melengking, bergetar melalui corong radio, menembus dinding-dinding rumah di sudut Kota Surabaya. "Merdeka atau Mati!" pekik seorang pria muda yang kelak sejarah mengenalnya sebagai Bung Tomo. Kalimat itu bukan sekadar slogan, melainkan detak jantung dari sebuah kota yang menolak untuk kembali dibelenggu oleh rantai kolonialisme.

Setiap tanggal 10 November, Indonesia berhenti sejenak untuk mengenang Pertempuran Surabaya—sebuah peristiwa heroik yang tidak hanya luluh lantak oleh mortir dan tank, tetapi juga tegak berdiri karena martabat. Di balik gemuruh ledakan itu, terdapat narasi kompleks tentang pengkhianatan diplomatik, keberanian arek-arek Suroboyo, dan ironi kehidupan sang orator ulung di masa depan.

Benih Konflik: Kekosongan Kekuasaan dan Niat Tersembunyi Sekutu

Tragedi November 1945 tidak terjadi dalam ruang hampa. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada Agustus 1945, Indonesia berada dalam situasi vacuum of power. Proklamasi 17 Agustus telah dikumandangkan, namun dunia internasional, terutama Belanda, belum siap menerima kenyataan tersebut.

Pasukan Inggris yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) mendarat di Jakarta pada 29 September 1945 di bawah pimpinan Letnan Jenderal Philip Christison. Awalnya, kedatangan mereka disambut netral. Namun, kecurigaan mulai menyeruak ketika diketahui bahwa mereka membawa Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Inggris dan Belanda rupanya telah mengikat janji dalam Civil Affairs Agreement. Perjanjian ini secara tersirat mengatur penyerahan kembali kekuasaan Indonesia dari Inggris kepada Belanda. Di Surabaya, rakyat yang sudah mencium aroma kembalinya penjajahan mulai mempersenjatai diri dengan melucuti sisa-sisa tentara Jepang di berbagai markas militer.

Insiden Hotel Yamato: Sobekan Biru yang Menjadi Legenda

Ketegangan mencapai titik didih di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) pada 18 September 1945. Sekelompok warga Belanda yang dipimpin Mr. W.V.Ch. Ploegman secara sepihak mengibarkan bendera Belanda di puncak hotel. Tindakan provokatif ini dianggap sebagai penghinaan besar terhadap kedaulatan Republik yang baru seumur jagung.

Perundingan antara Residen Soedirman dan Ploegman berakhir buntu dan ricuh. Di tengah kekacauan tersebut, para pemuda Surabaya nekat memanjat tiang bendera. Dengan tangan yang gemetar namun penuh tekad, mereka merobek bagian biru dari bendera Belanda, menyisakan warna Merah dan Putih untuk dikibarkan kembali. Peristiwa ini menjadi simbol bahwa tidak ada tempat bagi warna biru kolonial di langit Surabaya.

Titik Balik Jembatan Merah: Tewasnya Mallaby dan Amarah Inggris

Puncak dari rentetan bentrokan kecil terjadi pada 30 Oktober 1945. Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, pimpinan pasukan Inggris di Jawa Timur, tewas dalam sebuah insiden tembak-menembak di Jembatan Merah. Mobil Lincoln yang ditumpanginya meledak terbakar, dan kematian sang jenderal membuat markas besar Inggris murka.

Kematian Mallaby menjadi pemantik bagi Inggris untuk melancarkan operasi militer skala penuh. Mayor Jenderal E.C. Mansergh, pengganti Mallaby, mengeluarkan ultimatum yang sangat merendahkan martabat bangsa. Seluruh pemimpin dan rakyat Surabaya diminta menyerahkan senjata dan menyerah sebelum pukul 06.00 pagi pada 10 November 1945.

"Jika tidak, Inggris akan menyerang besar-besaran," menjadi ancaman nyata yang membayangi warga kota. Namun, rakyat Surabaya memilih jalan yang berbeda: mereka memilih untuk melawan.

Sutomo: Sang Jurnalis yang Menggetarkan Podium dan Penjara

Di tengah ancaman tersebut, muncul sosok Soetomo atau Bung Tomo. Lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920, ia adalah seorang jurnalis berbakat yang pernah bekerja di Soeara Oemoem hingga menjadi wakil pemimpin redaksi Domei. Pengalaman jurnalistiknya membuat ia paham betul kekuatan propaganda dan komunikasi massa.

Bung Tomo memimpin Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dan menggunakan radio sebagai senjata utamanya. Pidatonya yang meledak-ledak mampu "menggelorakan semangat perjuangan melalui pidatonya yang berapi-api" untuk melawan penjajah. Ia berhasil menyatukan arek-arek Suroboyo, para santri, hingga tokoh agama seperti KH. Hasyim Asy’ari dalam satu barisan pertahanan.

Namun, sejarah Bung Tomo pasca-kemerdekaan menyimpan sisi kelam yang jarang dibahas secara mendalam di buku sekolah. Meski sempat menjabat sebagai Menteri di era Soekarno, Bung Tomo dikenal sebagai pengkritik yang tajam. Ia tak segan menggugat Soekarno ke pengadilan pada 1960 karena pembubaran konstituante.

Ketajaman kritiknya tidak tumpul saat memasuki era Orde Baru. Meski awalnya mendukung Soeharto untuk menentang komunisme, Bung Tomo berbalik arah ketika pembangunan dianggap tidak menyentuh rakyat kecil. Salah satu sasarannya adalah pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 1978.

Akibat sikap kritisnya, pahlawan yang pernah mengusir Sekutu ini harus merasakan dinginnya sel penjara. Ia ditangkap dan dimasukkan ke "Wisma Nirbaya, sekitar kawasan TMII selama setahun" tanpa proses peradilan yang jelas. Ironisnya, rezim saat itu sempat menjadikan Bung Tomo sebagai buruan politik sebelum akhirnya ia mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2008).

10 November 1945: Hari Penentuan dan Ultimatum Mansergh

Tepat pukul 06.00 pagi, ultimatum Inggris diabaikan. Akibatnya, Surabaya dibombardir dari udara, laut, dan darat. Pesawat tempur Inggris menjatuhkan bom di pusat-pusat pertahanan, sementara kapal perang menghujani kota dengan meriam. Pertempuran hebat ini berlangsung selama lebih dari dua pekan dan baru benar-benar berakhir pada 28 November 1945.

Dampak dari pertempuran ini sangat mengerikan. Data sejarah menyebutkan angka yang bervariasi, namun diperkirakan sekitar 6.000 hingga 20.000 pejuang dan warga sipil Indonesia gugur. Di sisi lain, Inggris kehilangan sekitar 600 hingga 1.600 tentaranya. Surabaya hancur secara fisik, tetapi secara moral, mereka menang. Dunia melihat bahwa Indonesia bukan sekadar "pemberian" Jepang, melainkan sebuah bangsa yang siap mati demi kemerdekaan.

Refleksi Hari Pahlawan: Lebih dari Sekadar Seremonial

Pemerintah menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Pada tahun 2025, peringatan ini mengusung tema "Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan". Tema ini mengajak generasi muda untuk melihat kepahlawanan bukan hanya sebagai peristiwa angkat senjata, melainkan sebagai integritas dalam berpikir dan bertindak.

Kepahlawanan Bung Tomo mengajarkan kita tentang konsistensi. Ia berjuang melawan penjajah asing, namun ia juga berani berdiri melawan ketidakadilan dari bangsanya sendiri, meski harus dibayar dengan kebebasannya. Perlawanan Arek-Arek Suroboyo menjadi bukti bahwa keberanian dan tekad mampu menghadapi kekuatan asing sebesar apa pun.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari darah, air mata, dan keberanian untuk berkata "tidak" pada penindasan. Semangat inilah yang seharusnya terus hidup, bukan hanya setiap tanggal 10 November, tetapi dalam setiap embusan napas sebagai warga negara yang berdaulat.

Dwi Ardiyan
Catatan Pewarta Warga

Dwi Ardiyan

Kontributor di WARGAZINE.ID

Berita Terkait di Rubrik Sejarah

Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada tanggapan pada artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan opini!